liputaninvestigasi.com – Polemik pernyataan seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) yang beredar melalui media sosi...
liputaninvestigasi.com – Polemik pernyataan seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) yang beredar melalui media sosial terus mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Kali ini, tanggapan datang dari mantan Kepala UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan (BKP) Unimal, Dr. Teuku Kemal Fasya, S.Ag., M.Hum.
Melalui pesan WhatsApp kepada media pada Selasa kemarin (23/6/2026), Teuku Kemal Fasya menilai bahwa pernyataan dosen yang disampaikan dalam video di akun TikTok @razif.doskill bisa berpotensi ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan terhadap profesi tertentu maupun alumni Universitas Malikussaleh.
Namun demikian, ia terlebih dahulu menegaskan bahwa dirinya tidak lagi menjabat sebagai Kepala UPT Bahasa, Kehumasan, dan Penerbitan Unimal sejak pertengahan Juni 2026, meskipun masih membantu sejumlah kegiatan kehumasan dan penerbitan di lingkungan kampus tersebut.
“Pernyataan di atas mungkin bisa ditafsirkan sebagai penghinaan, meskipun sebenarnya sang dosen memiliki maksud positif. Mungkin ketika memberikan contoh jangan sampai menyinggung pihak lain, termasuk alumni Unimal,” ujar Teuku Kemal Fasya.
Menurutnya, banyak alumni Universitas Malikussaleh yang telah menunjukkan prestasi dan keberhasilan di berbagai bidang. Karena itu, penyampaian pendapat yang memberi kesan merendahkan atau bersifat pejoratif sebaiknya dihindari, terlebih jika disampaikan oleh seorang akademisi dan tersebar luas melalui media sosial.
Ia mencontohkan bahwa saat ini Ikatan Alumni (IKA) Unimal dipimpin oleh Azhari Cage yang juga merupakan anggota DPD RI asal Aceh. Selain itu, banyak alumni Unimal yang berkarier sebagai dosen, anggota legislatif, profesional di sektor industri pertambangan, pengusaha, maupun berbagai profesi lainnya.
“IKA Unimal saat ini dipimpin oleh Azhari Cage yang menjadi salah seorang DPD RI wakil Aceh. Cukup membanggakan. Banyak juga IKA Unimal yang sukses di banyak tempat, termasuk menjadi dosen, bekerja di industri pertambangan, anggota dewan, dan lain-lain,” katanya.
Teuku Kemal menegaskan bahwa seorang dosen memiliki tanggung jawab moral dalam mendidik mahasiswa yang nantinya menjadi alumni. Oleh sebab itu, pemilihan frasa, kalimat, maupun perumpamaan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau melukai perasaan pihak tertentu.
“Dosen mendidik mahasiswa yang kemudian menjadi alumni. Jadi harus bijak dalam memilih frasa, kalimat, dan perumpamaan, apalagi jika sampai tersebar di media sosial,” ujarnya.
Untuk meredam polemik yang berkembang di kalangan alumni, ia menyarankan agar dosen yang bersangkutan segera memberikan klarifikasi kepada publik dan menyampaikan permohonan maaf apabila pernyataannya memang menimbulkan ketersinggungan.
“Agar ini tidak berlarut-larut, dosen bersangkutan bisa membuat klarifikasi dan meminta maaf jika menyinggung perasaan alumni Unimal,” tambahnya.
BACA JUGA:
Sebelumnya, pernyataan dosen Fakultas Ekonomi Unimal dalam sebuah video yang beredar di media sosial menuai kritik dari sejumlah alumni. Dalam video tersebut, dosen yang akrab disapa Pak Ajip itu menyampaikan pandangannya mengenai kesuksesan alumni dengan menyinggung sejumlah profesi yang dianggap tidak mencerminkan keberhasilan hidup. Pernyataan itu kemudian memicu reaksi dari kalangan alumni dan Ikatan Alumni Universitas Malikussaleh yang menilai narasi tersebut berpotensi merendahkan profesi dan pekerjaan tertentu. (taufiq)
