Aceh Utara/liputaninvestigasi.Com -Tumpukan sampah dan genangan air hitam yang memenuhi saluran drainase di Desa Alue Ie Puteh, Kecamatan B...
Aceh Utara/liputaninvestigasi.Com-Tumpukan sampah dan genangan air hitam yang memenuhi saluran drainase di Desa Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, kembali memicu keluhan masyarakat. Kondisi yang telah berlangsung cukup lama itu dinilai mengganggu aktivitas warga dan pedagang serta mencerminkan belum optimalnya penanganan persoalan lingkungan di kawasan pasar setempat.
Pantauan di lapangan, Kamis (3/7/2026), menunjukkan sedikitnya dua titik drainase mengalami penyumbatan, yakni di ruas jalan pasar dan kawasan rel kereta api. Air yang menggenang tampak berwarna kehitaman, dipenuhi sampah rumah tangga dan limbah yang mengendap. Aroma menyengat tercium di sekitar lokasi, terutama saat cuaca panas.
masyarakat yang setiap hari beraktivitas di kawasan tersebut menyebutkan, kondisi itu bukan lagi pemandangan baru. Mereka mengaku harus hidup berdampingan dengan bau tak sedap yang muncul dari saluran yang tidak berfungsi normal.
"Kalau musim panas baunya semakin menyengat. Kami yang berjualan dan warga sekitar tentu merasa terganggu," ujar seorang pedagang yang ditemui di lokasi.
Sejumlah warga menuturkan, persoalan drainase tersebut sudah berulang kali terjadi. Pembersihan memang pernah dilakukan, terutama setelah banjir melanda wilayah itu. Namun upaya tersebut dinilai belum mampu memberikan solusi jangka panjang karena saluran kembali dipenuhi sampah dan endapan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai efektivitas pengelolaan drainase dan kebersihan lingkungan di kawasan yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi warga Baktiya tersebut.
Selain mengganggu kenyamanan, genangan air yang bercampur limbah juga dikhawatirkan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan apabila dibiarkan dalam waktu lama. Lingkungan yang kotor dan lembap dapat menjadi tempat berkembangnya berbagai vektor penyakit.
Kepala Desa Alue Ie Puteh, Danil, mengakui adanya persoalan tersebut. Ia mengatakan pemerintah desa sebelumnya telah melakukan upaya pembersihan di beberapa titik yang mengalami penyumbatan.
Menurutnya, volume air yang mengalir dari sejumlah saluran serta penumpukan sampah menyebabkan drainase kembali tidak berfungsi optimal. Ia juga mengakui bahwa kondisi terparah terjadi di area depan pasar ikan.
"Kami sudah berupaya melakukan pembersihan. Namun karena banyaknya aliran air dari beberapa parit dan adanya penumpukan sampah serta limbah, genangan kembali terjadi. Untuk depan pasar ikan memang kondisinya cukup parah," kata Danil.
Ia menambahkan, penanganan masalah tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah desa. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pengelola pasar, pedagang, pemilik kios, dan masyarakat sekitar untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.
lanjutnya, pemerintah desa berencana kembali melakukan pembersihan setelah Dana Desa tahap kedua dicairkan. Langkah itu diharapkan dapat mengurangi genangan dan memulihkan kenyamanan masyarakat.
"Setelah dana desa tahap dua cair, pemerintah desa kembali membersihkan drainase tersebut demi kenyamanan masyarakat" Pungkasnya (Munawir)
