Banda Aceh/liputaninvestigasi.com- Program pelatihan beasiswa penuh 2DIGIT Academy Global Talent Training Batch #2 kembali menggelar pertemu...
Banda Aceh/liputaninvestigasi.com-Program pelatihan beasiswa penuh 2DIGIT Academy Global Talent Training Batch #2 kembali menggelar pertemuan kedua yang berlangsung di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh, Sabtu (13/6/2026), pukul 10.00–11.30 WIB. Kegiatan ini mengangkat tema “Pembuatan CV Standar Pasar Kerja Global” sebagai upaya mempersiapkan generasi muda Aceh menghadapi persaingan kerja internasional.
Sesi pelatihan menghadirkan Jurnalis JH, seorang profesional yang saat ini bekerja secara remote sebagai Content Quality Assurance di Labster, Denmark. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan perubahan besar pola kerja global pasca-pandemi Covid-19 yang mendorong banyak perusahaan menerapkan sistem kerja jarak jauh (remote working).
Menurutnya, model kerja remote memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan, antara lain operasional yang dapat berjalan selama 24 jam melalui kolaborasi lintas zona waktu serta efisiensi biaya operasional dibandingkan sistem kerja konvensional.
“Pasca-Covid, banyak perusahaan mulai memandang cara kerja secara berbeda. Mereka tidak lagi terbatas merekrut tenaga kerja dari negara tertentu, tetapi mencari talenta terbaik dari berbagai negara dengan biaya yang lebih efisien,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan global saat ini terbuka merekrut lulusan baru (fresh graduate) dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain memiliki kompetensi yang baik, talenta Indonesia dinilai memiliki daya saing tinggi di pasar kerja internasional.
Dalam sesi materi, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai perbedaan antara resume, portfolio, dan CV berbasis Applicant Tracking System (ATS) yang menjadi standar dalam proses rekrutmen modern.
Jurnalis JH menjelaskan bahwa resume merupakan dokumen singkat yang menampilkan pengalaman kerja, keterampilan, dan pendidikan yang paling relevan dengan posisi yang dilamar. Sementara portfolio berisi dokumentasi proyek, karya, maupun pencapaian nyata yang pernah dihasilkan seseorang, seperti desain, tulisan, program komputer, riset, maupun pengalaman penggunaan berbagai perangkat lunak.
Adapun CV ATS merupakan riwayat hidup yang disusun mengikuti standar sistem penyaringan digital perusahaan. Dokumen ini memuat informasi pendidikan, pengalaman kerja, keterampilan, organisasi, penghargaan, serta pencapaian lainnya secara sistematis agar mudah dibaca oleh perangkat lunak rekrutmen.
Pada sesi diskusi, peserta bernama Salsabila menanyakan cara menentukan perusahaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Menanggapi hal tersebut, Jurnalis JH menyarankan agar peserta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menyesuaikan isi CV dan portfolio dengan kebutuhan perusahaan yang dituju.
“Gunakan AI untuk melakukan penyesuaian portfolio dan CV sesuai posisi yang dilamar. Saat ini formatnya bisa dibuat melalui Google Docs, Microsoft Word, Canva, maupun platform lainnya selama tetap mengikuti standar ATS,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa portfolio yang baik setidaknya memuat identitas diri, pengalaman kerja, keterampilan spesifik, riwayat pendidikan, proyek yang pernah dikerjakan, hasil kerja nyata, penghargaan, serta kemampuan bahasa yang dikuasai.
Sementara itu, peserta lainnya, Muhammad Ikbal, mempertanyakan pentingnya memiliki akun LinkedIn dalam proses pencarian kerja. Menjawab pertanyaan tersebut, Jurnalis JH menegaskan bahwa LinkedIn menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun kredibilitas profesional di era digital.
“LinkedIn berfungsi sebagai sarana pembuktian terhadap portfolio yang kita kirimkan kepada perusahaan. Kehadiran profil profesional yang aktif akan meningkatkan kepercayaan perekrut terhadap kompetensi yang dimiliki pelamar,” katanya.
Program 2DIGIT Academy sendiri merupakan pelatihan berbasis beasiswa penuh yang diselenggarakan oleh MIT Foundation untuk mempersiapkan generasi muda Aceh agar mampu bersaing di pasar kerja internasional. Melalui pelatihan yang menghadirkan praktisi global, peserta dibekali berbagai keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja modern, mulai dari kemampuan komunikasi internasional, penyusunan dokumen profesional, hingga strategi membangun karier di perusahaan global.
Ketua penyelenggara berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan peserta mengenai peluang kerja lintas negara sekaligus meningkatkan kesiapan sumber daya manusia Aceh dalam menghadapi transformasi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi dan tanpa batas geografis. (Junaidi)
