Bireuen/liputaninvestigasi.com- Di tengah gencarnya klaim penanganan pascabencana serta berbagai seremoni penyerahan bantuan, masih ada war...
Bireuen/liputaninvestigasi.com- Di tengah gencarnya klaim penanganan pascabencana serta berbagai seremoni penyerahan bantuan, masih ada warga yang luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Bireuen. Tiga bulan pasca banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah, penderitaan para korban masih menyelimuti desa-desa, salah satunya dialami Syukri (50), warga Dusun Cut Nyak, Gampong Monjambe, Kecamatan Gandapura.
Rumah beserta tanah milik Syukri yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan hilang diterjang banjir bandang dan longsor pada 26 November 2025. Hingga kini, ia mengaku belum merasakan sentuhan bantuan nyata dari pemerintah, baik pusat maupun daerah.
“Rumah saya hanyut, tidak satu pun yang bisa diselamatkan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (17/2/2026).
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, Syukri juga kehilangan mata pencaharian. Sebelum bencana, ia bekerja sebagai petani tambak untuk menghidupi istri dan kelima anaknya. Namun, tambak tempatnya bekerja kini hancur tertimbun lumpur.
“Tambak ikan tempat saya bekerja hancur. Sekarang saya tidak ada pekerjaan tetap untuk menafkahi keluarga. Anak-anak saya masih kecil,” tuturnya lirih.
Saat ini, Syukri bersama lima anak dan istrinya keluarganya tinggal di sebuah gubuk sederhana yang dibangun dari hasil menjual satu ekor lembu serta emas milik keluarga..
“Rumah ini saya bangun, dengan mengutang dari uang menjual lembu dan emas milik keluarga,” katanya.
Ia mengaku pihak desa telah melakukan pendataan korban banjir bandang. Namun, hingga kini bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) maupun bantuan sembako dari pemerintah kabupaten belum juga diterima.
“Hingga hari ini saya belum menerima bantuan apa pun, termasuk Dana DTH dan sembako kabupaten. Kalau dari swadaya masyarakat ada, seperti bantuan pakaian dari Aceh Utara,” ungkapnya.
Menjelang bulan Ramadan, Syukri berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih kepada para korban bencana secara merata.
“Kami berharap pemerintah membangun hunian tetap dan memberikan bantuan biaya hidup. Kami benar-benar tidak punya apa-apa lagi,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Cut Nyak, Harun, yang ditemui di lokasi terpisah mengatakan Syukri merupakan salah satu korban paling parah terdampak banjir karena rumah dan lahannya hilang total akibat abrasi dan longsor di bantaran sungai.
“Data sudah kami naikkan. Jangankan bantuan, dijenguk pun belum,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi para korban yang hingga kini masih bertahan tanpa kepastian.
“Pemerintah harus melihat langsung para korban agar bantuan tepat sasaran. Mereka sekarang tidak punya apa-apa, termasuk rumah,” tegasnya.
Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat setempat. Warga menilai penanganan bencana belum merata.
“Kasihan Syukri, anaknya banyak dan pekerjaannya sudah tidak ada. Tambak tempat beliau bekerja hancur. Kami sebagai masyarakat hanya bisa membantu dari swadaya,” tutup Harun.
Sampai berita ini di tayangkan belum mendapatkan pernyataan resmi dari pemerintah kabupaten Bireuen terkait penanganan banjir (Taufiq)
