Liputaninvestigasi.com – Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bireuen kembali menuai sorotan tajam. Tiga gampong di Kecamatan Kutablang, yakni Ga...
Liputaninvestigasi.com – Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bireuen kembali menuai sorotan tajam. Tiga gampong di Kecamatan Kutablang, yakni Gampong Cot Me, Gampong Babah Suak, dan Gampong Pulo Nga, yang mengalami dampak banjir paling parah justru tidak masuk dalam daftar penerima bantuan sapi meugang senilai Rp50 juta per gampong.
Padahal, ketiga desa tersebut berada di sepanjang aliran Sungai Peusangan sebelah timur, kawasan yang menjadi titik terparah saat banjir melanda. Puluhan rumah terendam, dipenuhi lumpur, bahkan beberapa rumah dilaporkan hilang tersapu arus deras.
Namun ironisnya, saat bantuan digelontorkan, nama ketiga desa tersebut justru “menghilang” dari daftar penerima kepada wartawan liputan investigasi 14 februari 2025.
Sekretaris Desa Cot Me, Safrizal abd, mempertanyakan keras keputusan tersebut dan menilai pemerintah daerah seakan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat.
“Rumah warga rusak, lumpur di mana-mana, bahkan ada rumah yang hilang tersapu banjir. Tapi kenapa gampong kami tidak masuk data penerima bantuan? Ke mana pemerintah Bireuen? Ini sangat menyakitkan bagi masyarakat kami,” tegas Safrizal abd.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa proses pendataan dan penetapan penerima bantuan tidak berjalan secara adil dan transparan. Desa yang jelas-jelas terdampak parah justru terabaikan.
Jika desa yang hancur akibat banjir saja bisa terhapus dari daftar bantuan, saya berhak mempertanyakan integritas sistem pendataan yang digunakan pemerintah daerah ujar safrizal abd.
Bantuan sapi meugang seharusnya menjadi bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana. Namun yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat korban banjir merasa diabaikan dan ditinggalkan. Kondisi ini tidak hanya melukai rasa keadilan masyarakat, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap Pemerintah Kabupaten Bireuen.
Apakah ini akibat kelalaian, kesalahan data, atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan Jika pemerintah tidak segera memberikan klarifikasi dan memperbaiki ketidakadilan ini, maka wajar jika masyarakat menilai bahwa penderitaan korban banjir di 3 desa kami tidak menjadi prioritas.
Bagi warga Cot Me, Babah Suak, dan Pulo Nga, bantuan bukan sekadar sapi meugang. Ini adalah soal keadilan, kepedulian, dan bukti nyata apakah pemerintah benar-benar hadir untuk rakyatnya atau hanya hadir sebagai duta wisata bencana tegas safrizal abd. (Taufiq)
