liputaninvestigasi.com – Seorang ibu janda bernama Erlina, yang memiliki tiga orang anak yatim, harus menerima kenyataan pahit setelah rumah...
liputaninvestigasi.com – Seorang ibu janda bernama Erlina, yang memiliki tiga orang anak yatim, harus menerima kenyataan pahit setelah rumah satu-satunya milik keluarganya hilang total akibat banjir yang melanda Desa Babah Suak, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.
Mengetahui informasi tersebut, Ketua Serikat Aksi Peduli Aceh (SAPA), Fauzan Adami, langsung turun ke lokasi untuk melihat secara langsung kondisi korban. Kunjungan tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan keuchik setempat dan turut didampingi oleh aparat gampong, Minggu (4/1/2026).
Kedatangan Ketua SAPA disambut haru oleh Erlina, seorang janda yang telah lama ditinggal wafat suaminya dan selama ini menjadi tulang punggung keluarga bagi ketiga anaknya. Dalam kesempatan itu, SAPA menyerahkan bantuan kemanusiaan yang diterima langsung oleh Erlina.
Pada kesempatan tersebut, Erlina menceritakan detik-detik mencekam saat banjir melanda desanya. Ia mengaku tidak berada di rumah ketika peristiwa itu terjadi karena sedang bekerja berjualan di Samalanga.
“Saat kejadian saya sedang jualan di Samalanga. Anak-anak yang ada di rumah. Awalnya masih sempat komunikasi saat air mulai masuk, tapi setelah itu listrik mati dan komunikasi terputus,” tutur Erlina dengan suara bergetar.
Ia baru dapat kembali ke rumah dua hari kemudian, lantaran akses jalan terputus dan jembatan Kuta Blang rusak akibat banjir.
“Dua hari kemudian saya baru sampai ke sini. Saya dengar kabar anak-anak selamat. Alhamdulillah bersyukur, tapi hati rasanya sesak karena rumah dan semua barang kami hilang total,” ujarnya di hadapan Ketua SAPA.
Anak sulung Erlina juga turut menceritakan peristiwa tersebut. Saat air mulai masuk ke rumah, ia langsung menyelamatkan kedua adiknya keluar rumah menuju arah Kuta Blang.
Dalam kondisi darurat itu, mereka hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa barang apa pun.
“Yang kami bawa hanya badan. Semua barang habis, termasuk surat tanah dan ijazah,” kata Erlina sambil memeluk anaknya.
Anak pertama Erlina saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), sementara dua adiknya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Seluruh perlengkapan sekolah mereka, termasuk seragam, tas, sepatu, dan alat tulis, hanyut terbawa banjir.
Erlina berharap pemerintah segera melakukan pemulihan pascabencana, mulai dari perbaikan infrastruktur dan akses jalan, hingga pembangunan kembali rumah warga terdampak, agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Yang paling kami butuhkan saat ini adalah rumah. Bantuan yang kami terima hanya berupa sembako dari posko desa. Untuk kebutuhan lain seperti seragam dan perlengkapan sekolah belum ada. Jika nanti anak-anak kembali ke sekolah, terpaksa menggunakan baju apa adanya terlebih dahulu,” pinta Erlina.
Melihat kondisi tersebut, Ketua SAPA, Fauzan Adami, memberikan semangat kepada anak-anak agar tetap melanjutkan pendidikan dan tidak putus sekolah. “Sekolah tetap nomor satu. Jangan menyerah, terus belajar dan kejar cita-cita,” pesan Fauzan.
Fauzan juga berharap adanya perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak, khususnya untuk membantu pemenuhan kebutuhan pendidikan dua anak yatim tersebut yang masih duduk di bangku SMP, agar mereka dapat kembali bersekolah secara layak dan penuh semangat.
Selain itu, Fauzan meminta Pemerintah Kabupaten Bireuen segera turun tangan dan menghadirkan solusi konkret bagi korban banjir.
“Pemkab Bireuen harus segera membangun kembali rumah korban banjir. Mereka sudah lebih dari sebulan harus menumpang di rumah orang lain. Prioritaskan janda dan lansia yang terdampak bencana,” tegasnya.

