Bireuen/Liputaninvestigasi.com- Ketika air banjir mulai surut dan perhatian publik perlahan menghilang, penderitaan korban justru masih berl...
Bireuen/Liputaninvestigasi.com-Ketika air banjir mulai surut dan perhatian publik perlahan menghilang, penderitaan korban justru masih berlangsung pasca banjir melanda Bireuen pada 26/11/2025. Nasib memilukan dialami Muchtar Ahmad (77), warga Gampong Raya Dagang, kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, yang hingga kini hidup terlantar tanpa rumah, tanpa penghasilan, dan tanpa kepastian bantuan dari pemerintah.
Rumah yang selama ini ditempatinya bersama keluarga lenyap diterjang banjir, tak menyisakan harta benda sedikit pun. Sejak itu, Muchtar Ahmad terpaksa menumpang tinggal di sebuah meunasah bersama anaknya, Saidul Azhar (38), serta dua orang cucunya yang masih duduk di bangku kelas 3 dan kelas 1 sekolah dasar.
Dalam keluarga tersebut, tidak ada satu pun yang memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan belas kasih masyarakat sekitar.
Kepada wartawan Liputaninvestigasi, Kamis (29/1/2026), Muchtar Ahmad mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada bantuan lanjutan dari pemerintah, baik berupa hunian sementara (huntara) maupun bantuan tunai bulanan.
“Kalau bantuan dari pemerintah bireuen berupa sembako ada, itu pun hanya waktu awal-awal banjir. Setelah itu tidak ada lagi. Bantuan uang Rp600 ribu per bulan juga tidak ada,” ujarnya.
Ia menyebutkan, bantuan yang sempat diterima hanya sebatas pakaian, sembako, dan beras pada fase awal tanggap darurat. Setelah masa itu berlalu, bantuan terhenti total. Tidak ada BLT daerah, tidak ada huntara, dan tidak ada pendampingan lanjutan bagi korban banjir.
Lebih ironis lagi, hingga kini Pemerintah Kabupaten Bireuen belum menyediakan hunian sementara bagi korban banjir, sehingga warga lanjut usia seperti Muchtar Ahmad terpaksa bertahan hidup dan tidur di rumah ibadah. Kondisi ini dinilai mencederai rasa kemanusiaan dan mencerminkan lemahnya penanganan pascabencana.
“Kami tidak minta rumah bagus. Cukup rumah gubuk untuk berteduh bersama anak cucu saya, dan sedikit uang untuk kebutuhan makan sehari-hari. Itu saja sudah cukup,” tuturnya lirih.
Sementara itu, Saidul Azhar mengaku kondisi keluarga mereka semakin sulit. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap karena harus menanggung kebutuhan ayahnya yang sudah lanjut usia serta dua orang anak yang masih bersekolah.
“Dulu saya masih ada pekerjaan. Setelah banjir, semuanya hilang. Sekarang saya menganggur dan tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghidupi ayah dan anak-anak saya,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanpa bantuan dan tanpa penghasilan, keluarganya kerap kesulitan untuk sekadar membeli makanan sehari-hari.
“Kami benar-benar tidak makan kalau tidak ada orang yang membantu,” pungkasnya. (Taufiq)
