liputaninvestigasi.com — Persoalan pengelolaan sampah kembali mencuat di Kabupaten Bireuen. Tumpukan sampah terlihat menggunung di kawasan P...
liputaninvestigasi.com — Persoalan pengelolaan sampah kembali mencuat di Kabupaten Bireuen. Tumpukan sampah terlihat menggunung di kawasan Pasar Gandapura, dipicu minimnya armada pengangkut milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pemkab Bireuen.
Saat ini, hanya satu unit truk sampah harus melayani dua kecamatan sekaligus, yakni Gandapura dan Kuta Blang.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan buruknya tata kelola persampahan daerah.
Akibat keterbatasan armada, pengangkutan sampah kerap tidak berjalan maksimal, sehingga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya para pedagang pasar.
Fadhil, salah seorang pedagang Pasar Gandapura, mengaku kecewa dan resah. Ia menyebut para pedagang rutin membayar iuran sampah, namun pelayanan yang diterima jauh dari harapan.
“Kami selalu bayar iuran sampah dengan lunas, tapi sampah tidak diangkut. Bau menyengat, badan jalan tertutup sampah, pelanggan jadi malas masuk dan usaha kami sepi,” keluh Fadhil, Kamis (8/1/2026).
Ia menilai DLHK Bireuen tidak adil dalam menjalankan kewajibannya. Menurutnya, jika pelayanan pengangkutan terus bermasalah, maka penarikan iuran sampah patut dievaluasi.
“Pendapatan kami sudah menurun, masih dibebani iuran sampah. Kalau begini terus, lebih baik kutipan sampah ditutup saja,” tegasnya.
Diketahui, sampah di Pasar Gandapura tidak terangkut selama dua hari berturut-turut, Selasa dan Rabu. Hal ini terjadi karena armada truk dialihkan untuk melayani wilayah Pasar Kuta Blang, sehingga Gandapura praktis tidak terlayani.
Meski pada Kamis armada kembali datang, volume sampah yang terlanjur menumpuk membuat pengangkutan tidak dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Hari Kamis truk memang datang, tapi sampah tidak bisa terangkut semua karena sudah terlalu banyak,” ujar Zulfan, Mandor Sampah Gandapura.
Menurut Zulfan, persoalan utama sejak lama adalah ketimpangan antara jumlah armada dan beban kerja. Satu unit truk harus melayani dua kecamatan dengan aktivitas pasar, sekolah, serta kawasan padat penduduk yang terus meningkat.
Situasi ini diperparah pascabanjir yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu.
Hingga kini, beberapa titik di Kuta Blang belum tertangani maksimal, sehingga armada kerap “mengejar ketertinggalan” dan mengorbankan wilayah lainnya.
Ironisnya, Pasar Gandapura sempat dibersihkan menggunakan alat berat excavator bantuan DLHK Pemkab Bireuen pada awal pekan. Namun kebersihan tersebut hanya bertahan singkat. Dalam beberapa hari berikutnya, sampah kembali menumpuk dan volumenya terus bertambah.
Zulfan menambahkan, peningkatan volume sampah juga dipicu aktifnya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sampah jajanan siswa hingga sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memperparah kondisi.
Bahkan, pada hari terakhir pengangkutan, sampah hanya terangkut di satu titik, sementara tumpukan di area pasar samping SMP Negeri 1 Gandapura terpaksa ditinggalkan karena truk sudah penuh.
“Dengan kondisi seperti ini, satu armada jelas tidak cukup. Kami berharap Pemda Bireuen segera menambah minimal satu unit truk agar sampah pasar dan sekolah dapat tertangani secara maksimal,” pungkasnya. (Taufiq)
