liputaninvestigasi.com- Banjir yang melanda Kabupaten Bireuen pada 26 November lalu tidak hanya menyisakan kerusakan dan kerugian materi, t...
liputaninvestigasi.com- Banjir yang melanda Kabupaten Bireuen pada 26 November lalu tidak hanya menyisakan kerusakan dan kerugian materi, tetapi juga menghadirkan persoalan baru bagi masyarakat. Selain harga sembako yang melambung tinggi, harga bahan bakar minyak (BBM) eceran juga ikut meroket dan kian memberatkan warga di tengah masa pemulihan.
Pantauan hingga Senin (4/12/2024), harga BBM eceran di sejumlah titik di Kabupaten Bireuen berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp35.000 per liter. Kondisi ini menambah beban masyarakat yang masih berupaya bangkit setelah dihantam banjir besar.
Salma, warga Nisam, mengaku terpaksa mendorong sepeda motornya sejauh dua kilometer setelah kehabisan bahan bakar saat mencari anaknya yang hingga kini belum ditemukan setelah pulang dari Banda Aceh.
“Saya dapat minyak di salah satu kios kawasan Leubu, Kecamatan Makmur. Satu botol air mineral ukuran sedang berisi pertalite dijual Rp20.000. Uang di kantong saya cuma Rp15.000, bahkan untuk beli minyak pun tak cukup. Belum lagi untuk bertahan hidup. Anak saya juga belum ada kabar,” ujarnya dengan wajah sedih.
Tidak hanya di Bireuen Keluhan serupa disampaikan Abdullah, warga Sawang, yang menemukan harga BBM jauh di atas kewajaran saat mengisi bahan bakar di kawasan Simpang Jalan Elak Krueng Mane, Aceh Utara.
“Mereka jual pakai mobil pick up. Pertalite dijual Rp25.000 per liter, sementara pertamax dalam botol air mineral besar dibanderol Rp35.000 per botol. Di tengah bencana seperti ini seharusnya jangan mencekik rakyat. Kita paham orang cari rezeki, tapi jangan memperparah derita masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masyarakat biasa terpaksa mengantre berjam-jam di SPBU, sementara oknum penjual BBM eceran dapat berjualan bebas dengan jeriken dalam jumlah besar.
Abdullah berharap pemerintah dan aparat penegak hukum turun tangan mengusut praktik dugaan permainan harga serta mafia BBM yang memanfaatkan kondisi bencana.
“Ini pasti ada pemain besar di belakangnya. Masyarakat kecil tidak mungkin berani. Pemerintah harus tegas menangani ini,” tutupnya.
