Bireuen/liputaninveatigasi.com- Cahaya matahari pagi menembus celah pepohonan di Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu, Minggu (17/...
Bireuen/liputaninveatigasi.com-Cahaya matahari pagi menembus celah pepohonan di Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu, Minggu (17/8/2025). Udara yang hangat berpadu dengan derap langkah pasukan Paskibraka yang bersiap mengibarkan Sang Merah Putih. Ribuan pasang mata menatap khidmat ke arah tiang bendera, menanti momen sakral peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi masyarakat Bireuen, upacara kali ini lebih dari sekadar seremonial tahunan. Kota ini pernah mencatat sejarah penting: pada 18 Juni 1948, Bireuen menjadi ibu kota Republik Indonesia untuk sementara waktu. Seminggu lamanya, denyut perjuangan bangsa berpusat di kota kecil di Aceh ini, menjadikannya saksi nyata betapa erat hubungan masyarakat dengan kemerdekaan.
Sejak pukul 07.00 WIB, warga sudah memadati lapangan. Ada pelajar berseragam putih abu-abu yang datang bersama guru, ibu-ibu yang membawa anak kecil dengan bendera kecil di tangan, hingga para veteran yang hadir dengan wajah penuh haru.
Tepat pukul 08.00 WIB, dentuman genderang upacara dimulai. Bupati Bireuen, H. Mukhlis, S.T., bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa.
“Kemerdekaan ini harus kita isi dengan kerja nyata. Menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, dan membangun kesejahteraan rakyat adalah wujud penghargaan kepada para pejuang,” tegasnya.
Ketika Sang Merah Putih perlahan naik diiringi lagu Indonesia Raya, suasana seketika berubah hening. Para peserta menundukkan kepala, beberapa terlihat menitikkan air mata.
Rangkaian acara dilengkapi pembacaan teks Pancasila, naskah Pembukaan UUD 1945, doa bersama, hingga penutupan dengan lagu Andhika Bhayangkari. Seluruh prosesi berjalan lancar dengan pengamanan terpadu TNI-Polri.
Upacara turut dihadiri Wakil Bupati Ir. Razuardi, M.T., Ketua DPRK Junaidi, S.H., Kapolres AKBP Tuschad Cipta Herdani, Dandim 0111/Bireuen Arh Luthfi Novriandi, serta jajaran Forkopimda lainnya. Kehadiran mereka bersama ribuan masyarakat memperlihatkan kebersamaan antara pemimpin dan rakyat.
Perayaan HUT ke-80 RI di Bireuen menjadi pengingat bahwa nasionalisme tidak pernah pudar. Semangat itu masih terasa di tengah masyarakat yang berbaur tanpa sekat, baik pelajar, ASN, aparat keamanan, ulama, maupun masyarakat biasa.
Bireuen punya sejarah yang tidak bisa dilupakan. Setiap kali bendera merah putih berkibar, kita seakan kembali ke masa lalu, saat kota ini pernah menjadi pusat perjuangan bangsa,
Delapan dekade setelah proklamasi, Bireuen kembali menunjukkan komitmennya merawat kebhinekaan, menjaga persatuan, dan ikut berkontribusi menuju Indonesia yang lebih maju. (Nadar)
