TAKENGON - Warga Kampung Owaq Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Pertanyakan seluruh bangunan yang di kerjakan dengan mengunakan An...
TAKENGON - Warga Kampung Owaq Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Pertanyakan seluruh bangunan yang di kerjakan dengan mengunakan Anggaran Dana Desa (ADD) yang di kerjakan sejak dari Tahun 2016 sampai Tahun 2018 belum bisa di nikmati masyarakat hingga saat ini, Senin (10/9/2018).
Salah satu keluhan yang hingga saat ini, program yang belum di nikmati oleh sebagian besar masyarakat tersebut adalah pembangunan sarana Air Bersih dengan jumlah anggaran Rp. 400 juta ( Empat Ratus Juta rupiah) padahal warga sangat membutuhkan air apalagi kondisi saat ini musim kemarau, ungkap salah satu warga Owaq kepada media ini.
Disebutkannya, air bersih merupakan kebutuhan vital sehingga persoalan ini harus dipertanyakan secara detil muslim dari rencana, pelaksanaan pembangunan sesuai dengan juklak dan juknis serta dokumen pelaksanaan seharusnya bangunan tersebut sudah selesai tahun 2016 lalu, anehnya lagi kenapa proyek yang sudah ditarik uangnya 100 persen namun tidak bisa dimanfaatkan warga itu tidak ada tindaklanjutnya " ini merupakan hal mubazir atau proyek gagal karena perencanaanya juga perlu dipertanyakan " pintanya.
Selain itu, realisasi pelaksanaan pembangunan add tahun 2018 yang saat ini pelaksanaannya sudah mencapai 60 persen, tetapi saat ditanya Ketua ( Tim Pelaksana Kegiatan) tidak mengantongi RAB kegiatan. Contohnya pembangunan jalan setapak sepanjang 1,5 Km, dimana ketua TPK hanya diberikan uang oleh reje Kampung sebesar Rp. 35 juta dengan PAGU anggaran sebesar Rp. 50 juta, selain itu pada sistem kegiatan tersebut tidak ada papan proyek sehingga ini ada indikasi pembohongan publik, begitu juga dengan pembangunan pembukaan jalan lingkungan dan pembuatan lapangan voly, tanpa ada plang papan kegiatan, jelasnya.
Menyikapi keluhan warga tersebut Reje Kampung Owaq Abdul Muthalib saat dikonfirmasi wartawan di kediamannya menyebutkan bahwa pembangunan sarana air bersih yang hingga saat ini belum bisa dimanfaatkan karena program tersebut dilaksanakan seolah - olah dipaksakan.
"Saya tidak setuju dengan pembangunan sarana air bersih ketika itu, karena menurut saya anggaran yang dialokasikan sebesar Rp. 400 juta tidak cukup, namun warga memaksakan pekerjaan tersebut harus dilaksanakan."terang reje Kampung Owaq.
Al hingga saat ini pipa sepanjang 8 Km tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh warga, jelasnya.
Disinggung tentang pelaksanaan kegiatan desa tahun 2018 ini, reje Abdul Muthalib yang mengaku baru terpilih kembali menjadi reje tersebut mengatakan pihaknya sudah melaksanakan kegiatan di beberapa aitem sudah mencapai 60 persen, sementara RAB Kegiatan dan papan kegiatan sedang dicetak, dengan alasan agar sesuai dengan anggaran pada aitem kegiatan yang sedang dilaksanakan.
Sebelumnya, warga juga menuding dalam pelaksanaan add Kampung Owaq hingga saat ini belum pernah dilaksanakan secara terbuka atau transparan, reje kampung hanya melibatkan aparat kampung, RGM dan Fasilitator desa dalam membuat laporan keuangan maupun dalam hal mengambil keputusan tanpa melibatkan masyarakat.
Kepada pihak terkait warga meminta untuk terjun langsung ke kampung Owaq sehingga dalam masyarakat tidak terjadi kesalahpahaman yang berbuntut kepada hal yang tidak diinginkan, pintanya warga (S'E)
